BANGGAI BERDIKARI - Wilayah "Banggai Bersaudara", sebuah istilah yang kini merujuk pada tiga kabupaten di ujung timur Sulawesi Tengah (Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut), merupakan sebuah entitas sejarah yang kaya.
Secara historis, wilayah ini dipersatukan oleh eksistensi Kerajaan Banggai, sebuah kerajaan maritim yang strategis di persimpangan jalur pelayaran krusial antara Sulawesi dan Maluku.
Posisi vital inilah yang membuat sejarah masuknya Islam ke Banggai menjadi sebuah narasi yang unik dan berlapis.
Tidak seperti banyak wilayah lain di Nusantara, Banggai memiliki dua narasi utama tentang kedatangan Islam: sebuah klaim yang menunjuk pada era yang sangat awal (abad ke-8 M) dan sebuah narasi yang lebih umum terjadi di Indonesia Timur, yakni melalui pengaruh kerajaan di sekitarnya. (abad ke-16 M).
Artikel ini akan mengulas kedua teori tersebut secara mendalam, berdasarkan bukti arkeologis, sejarah tutur (lisan), dan catatan sejarah politik regional.
1. Teori Gelombang Pertama: Jejak Islam Kosmopolitan Abad ke-8 M
Teori ini, yang menempatkan Banggai sebagai salah satu titik masuk Islam tertua di Nusantara, didasarkan pada pilar utama: bukti arkeologis yang signifikan.
Dasar dari teori ini adalah penemuan kompleks makam Islam kuno di Desa Lolantang, Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan. Temuan ini telah menjadi subjek penelitian serius, salah satunya oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sulawesi Tengah.
* Bukti Arkeologis (Makam Imam Sya'ban): Objek sentral dari penelitian ini adalah sebuah nisan yang memiliki inskripsi (pahatan tulisan). Menurut riset awal, seperti yang dipaparkan oleh Haliadi Sadi, Ketua TACB Sulteng, nisan tersebut bertuliskan angka tahun 168 Hijriah. Jika dikonversi ke kalender Masehi, angka ini merujuk pada sekitar tahun 792 Masehi.
* Bukti Arkeologis (Makam Imam Fuadin): Di lokasi yang berdekatan, terdapat pula makam kuno lain yang diyakini sebagai makam Imam Fuadin (atau Lipuadino). Dalam beberapa catatan lisan, makam ini bahkan disebut lebih tua lagi, yakni berasal dari tahun 67 Hijriah (sekitar 678 Masehi).
Keberadaan makam-makam ini mengindikasikan bahwa pada abad ke-8 M, telah ada tokoh-tokoh Muslim berpengaruh (kemungkinan mubaligh atau pedagang sufi dari Timur Tengah) yang hidup, berdakwah, dan wafat di wilayah Banggai.
Istilah "Islam Kosmopolitan" sering digunakan untuk menggambarkan fase ini, di mana Islam hadir melalui jalur perdagangan maritim global (jalur rempah), jauh sebelum era Wali Songo di Jawa.
2. Teori Gelombang Kedua: Pengaruh dari Kesultanan Ternate (Abad ke-16 M)
Teori kedua adalah narasi yang lebih konvensional dan tercatat dengan lebih baik dalam dokumen sejarah regional. Teori ini menempatkan proses Islamisasi Banggai secara masif dan terstruktur terjadi pada abad ke-16, seiring dengan ekspansi politik Kesultanan Ternate.
Pada abad ke-15 dan ke-16, Kesultanan Ternate (Maluku Utara) bangkit menjadi kekuatan maritim dan politik dominan di Indonesia Timur. Sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, Ternate memiliki pengaruh yang luar biasa luas, yang mencakup sebagian besar Sulawesi dan bahkan Filipina bagian selatan.
* Hubungan Politik Ternate-Banggai: Kerajaan Banggai, karena kedekatan geografis dan kepentingannya sebagai "pintu gerbang" ke Sulawesi, masuk ke dalam lingkaran pengaruh Ternate. Dalam banyak catatan sejarah, Kerajaan Banggai berstatus sebagai vasal (kerajaan bawahan) dari Ternate. Hubungan ini tidak hanya soal politik dan upeti, tetapi juga mencakup hubungan darah (pernikahan politik) dan penyebaran agama.
* Islamisasi "Top-Down": Ternate, terutama di bawah kepemimpinan sultan-sultan yang kuat, secara aktif menyebarkan agama Islam ke seluruh wilayah kekuasaannya. Ini juga menjadi strategi untuk membentengi wilayahnya dari pengaruh Portugis dan Spanyol yang membawa misi Kristenisasi.
Proses Islamisasi di Kerajaan Banggai diyakini terjadi melalui jalur "top-down" (dari atas ke bawah): dimulai dari Raja Banggai dan keluarganya, kemudian menyebar ke kalangan bangsawan, dan akhirnya diadopsi oleh rakyat.
Gelombang kedua inilah yang menjadikan Islam sebagai agama resmi dan institusional Kerajaan Banggai, yang kemudian membentuk struktur sosial-keagamaan yang bertahan hingga hari ini.
Raja yang dipercaya memeluk Islam pertama kali yaitu Adi Soko. Sebab dia merupakan utusan Kerajaan Ternate yang notabene sudah beragama Islam, dia kemudian datang dan mendirikan kerajaan Banggai. Pendirian ini dilakukan dengan melakukan penyatuan empat kerajaan kecil menjadi Kerajaan Banggai.
Berdasarkan catatan resmi Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan mencantumkan nama "Mbumbu Doi Jawa, Raden Adi Tjokro (Adi Soko)" sebagai raja yang memerintah pada tahun 1580. Tahun ini menempatkannya pada gelombang kedua (era Ternate).
Kesimpulan: Sintesis Dua Gelombang Sejarah
Kedua teori ini, meskipun terpisah rentang waktu hampir 800 tahun, tidak saling bertentangan. Keduanya kemungkinan besar saling melengkapi:
* Fase Pertama (Abad 8 M): Merupakan fase "perkenalan" atau "benih". Islam dibawa oleh para musafir atau pedagang sufi (seperti Imam Sya'ban dan Imam Fuadin) yang singgah di pelabuhan Banggai. Islam hadir sebagai agama individu atau komunitas kecil di pesisir, yang dibuktikan oleh makam-makam kuno.
* Fase Kedua (Abad 16 M): Merupakan fase "institusionalisasi". Islam disebarkan secara terstruktur dan masif sebagai bagian dari ekspansi politik Kesultanan Ternate, kemungkinan besar melalui tokoh seperti Adi Saka. Pada fase inilah Islam menjadi agama resmi Kerajaan Banggai dan mengakar kuat dalam sistem politik serta budaya masyarakat.
Daftar Pustaka
* Haliadi Sadi, dkk. (2023). "Jalur Rempah Sulawesi Tengah dan Islam Kosmopolitan (Observasi Awal Riset Imam Sya'ban di Lolantang Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah)". Bomba: Jurnal Pembangunan Daerah, Vol. 5, No. 2.
* Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan. (Tanpa Tahun). Sejarah Singkat Kabupaten Banggai Kepulauan.
* Kominfo Newsroom. (2023, 6 Oktober). Dialog: Riset Islam Kosmopolitan Imam Sya'ban di Lolantang Bangkep. [Video]. YouTube.
* Media Alkhairaat. (2022, 24 April). Napak Tilas Imam Syaban di Banggai. Diakses dari: media.alkhairaat.id/napak-tilas-imam-syaban-di-banggai/.
* Sripoku. (2020). Perkembangan Islam di Kerajaan Banggai Laut VIII-IX M. Ringkasan Skripsi/Karya Ilmiah. Perpustakaan FAH UIN Alauddin.
* Repositori UIN Alauddin Makassar. (2019). Kesultanan Ternate Pada Abad XVI-XVII (Kajian Historis Tentang Peranannya Terhadap Perkembangan Islam). Skripsi.
Posting Komentar untuk "Dua Wajah Sejarah Islam di Banggai Bersaudara: Jejak Awal Abad ke-8 dan Pengaruh Kesultanan Ternate"