*Penulis: Topan Samudra Adjahum Sabeha
Bunyi notifikasi handphone tanda pesan masuk melalui WhatsApp membuyarkan fokusku.
“Gun, yok pergi lihat-lihat senja sebentar sore di Bone Baru.” Begitu kira-kira isi pesan masuk dari kontak bernama Bila.
Aku yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaan kantor terkejut dengan ajakanmu. Entah apa yang membuatmu tiba-tiba mengajakku, padahal setiap kali kuajak melihat senja, kau selalu menolaknya dengan beribu alasan.
Tentu saja tanpa pikir panjang kubalas pesanmu segera. “Iya, setelah pulang kantor langsung kujemput.”
Membayangkan bagaimana menghabiskan senja dengan sosok sepertimu adalah bagian dari permintaan panjangku kepada Tuhan. Tapi, senyumku perlahan memudar dibarengi dengan alunan suara berat.
“Gun, nih ada data yang harus kamu buat,” perintah Pak Setyo, senior di Kantor Kementerian Agama Banggai Laut.
Pak Setyo sudah hampir sepuluh tahun kerja di Kantor Kemenag Banggai Laut sebagai tenaga honorer. Setiap tahun beliau mendaftar CPNS, tapi kerap kali tidak lulus.
Saat awal aku masuk kerja di sini sebagai honorer, Pak Setyo-lah yang selalu membantuku setiap kali ada pekerjaan yang belum kupahami. Bisa dibilang, Pak Setyo sudah menjadi mentor kerjaku.
Apa yang bisa kuperbuat? Jawabannya jelas, mengiyakan adalah pilihan terbaik. “Baik, Pak,” jawabku lesu.
Terhitung sudah sebulan aku bekerja sebagai tenaga honorer. Namun, statusku sebagai pengajar bagi anak-anak di pelosok desa di Banggai Laut tidak pernah absen.
Bersama beberapa teman di Desa Lampa tempat tinggalku, kami membentuk program “Peduli Pendidikan Banggai Laut”. Tim ini terdiri dari lima orang: Agus, Bayu, Lia, Ibnu, dan aku sendiri.
Minimal dua kali dalam sepekan kami pergi ke pelosok desa untuk mengajar anak-anak, mengingat di daerah Banggai Laut akses pendidikan masih sangat minim.
Resah dengan keadaan itulah yang membuat kami akhirnya membuat program tersebut.
“Gimana, jadi enggak?” tanyamu melalui pesan WhatsApp. Hampir saja aku lupa dengan janji melihat senja karena terlalu sibuk bekerja.
“Iya, jadi. Tunggu, pulang ganti baju dulu,” jawabku sambil melirik jam dinding kantor yang menandakan pukul lima sore.
“Tidak perlu ganti baju, Gun,” begitu kira-kira balasan pesanmu.
Aku bergegas keluar kantor menuju rumahmu menggunakan motor matic Honda Beat peninggalan almarhum bapakku.
Tanpa berganti pakaian lebih dulu sesuai dengan ucapanmu, aku memacu kendaraan. Perjalanan dari kantor menuju rumahmu nampaknya bukan hal yang menyita waktu lama.
“Bagaimana kerjamu hari ini, Gun?” tanyamu dengan penasaran. Kala itu udara sore makin menusuk, suasana begitu kental dengan euforia bahagia—setidaknya menurutku.
“Ya begitulah, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Mungkin karena aku anak baru,” kataku menjelaskan, berusaha menutupi nada gugup bicaraku.
“Hmm,” anggukmu seolah mengerti. Di detik berikutnya, keningmu mengerut samar. Tenang saja, di pandanganku itu tidak membuat pesonamu memudar.
“Terus, bagaimana dengan program kerjamu? Program anu... anu...” Kau memberi jeda di antara nada keingintahuan. “Program Peduli Pendidikan Banggai Laut, kan?” lanjutmu memastikan.
Program Peduli Pendidikan Banggai Laut memang sudah tidak asing lagi di telinga anak-anak muda di sini. Setiap kali program terlaksana, aku selalu membagikannya di media sosial.
“Alhamdulillah lancar. Pekan depan aku dan teman-teman lain mau pergi ke Desa Kapelak untuk mengajar sambil edukasi di sana,” jelasku.
Dua puluh menit perjalanan, kami sampai di pantai Desa Bone Baru.
“Di situ, Gun,” tunjukmu.
Dermaga dengan suguhan laut luas sejajar dengan matahari yang akan terbenam rupanya menjadi pilihanmu. Tidak buruk. Jujur, aku juga menyukai seleramu.
“Gun, kenapa ya minat belajar kita di Banggai Laut masih minim? Kok orang-orang pada malas belajar, ya?” tanyamu sebagai pembuka pembicaraan.
Dari keningmu yang mengerut samar sampai helaan napasmu yang kesekian kalinya, itu semua tidak luput dari pandanganku. Aku menarik pelan rokok dari saku, mengambil sebatang, membakarnya, dan menghembuskannya perlahan sambil memikirkan jawaban yang ingin kusampaikan.
“Sebenarnya orang-orang enggak malas belajar, hanya saja metode pengajarannya yang bikin jenuh. Apalagi di zaman modern begini, kita enggak bisa pakai metode pembelajaran kayak orang-orang tahun 90-an. Orang-orang maunya tuh belajar enggak hanya sekadar duduk dan mendengar tanpa ada kreasi lain,” ucapku berusaha menjelaskan.
“Selain itu, pemerintah seharusnya turut andil. Kan bisa dilihat sekarang, pemerintah kita di Banggai Laut hanya sibuk buat event-event, pembangunan, dan sebagainya. Tapi pendidikan?” jawabku penuh antusias.
Bisa kutebak, dari penjelasanku rupanya ada yang janggal menurut pemikiran cantikmu. Terbukti dengan tatapan tak puas dari binar matamu.
“Pemerintah kan hanya sekadar memberikan fasilitas aja, Gun. Mau atau tidaknya orang belajar, kembali lagi sama mereka aja,” sanggahmu.
“Tugas pemerintah bukan hanya sekadar memberikan fasilitas, La. Tugas pemerintah itu banyak, dari memberikan kebijakan demi kesejahteraan masyarakat, dan lain-lain. Ya termasuk pendidikan, baik itu metode pengajaran, kesejahteraan pengajar, fasilitas pembelajaran, dan lain-lain,” jelasku.
“Pemerintah Banggai Laut seharusnya mampu melihat keadaan ini. Contohnya Desa Malino. Di Desa Malino, gedung-gedung sekolahnya sudah mau roboh. Desa Kapelak sekolah SD-nya saja sudah pada rusak atapnya, dindingnya retak-retak, mana gurunya jarang masuk karena jarak yang jauh,” lanjutku dengan mantap.
Kamu terdiam sambil menatap matahari yang ingin terbenam, memantulkan cahaya jingga indah dan mempesona. Tidak, senja hari ini tidak sebanding dengan pesona matamu. Aku menyulut dalam-dalam rokok di genggamanku sambil melihat senja yang sama.
“Kamu tahu, Gun? Senja itu indah, tapi tidak semua daerah memiliki senja yang sama,” katamu memecah keheningan.
Aku mengangguk setuju, seolah membenarkan. Tapi dalam benakku ingin kusampaikan sesuatu padamu: menurutku, senja paling indah adalah senja bersamamu.
Kau melanjutkan kalimatmu setelah terdiam cukup lama.
“Seharusnya kita bisa untuk menjadi bagian dari perubahan untuk daerah Banggai Laut, tapi sayang….” Jeda pembicaraanmu seakan menungguku merespons.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Daerah kita terlalu menutup diri pada pemuda. Terlalu resisten pada pemikiran anak muda. Para pejabat yang ada takut kehilangan jabatannya hanya karena pemikiran kaum muda,” jelasmu.
Jujur saja, penjelasanmu kali ini membuatku berpikir rupa sempurna dari semua imajinasi yang kubuat. Tidak bisa dipungkiri, Bila merupakan gadis cerdas. Ia dengan begitu cepat dapat menganalisis suatu kejadian.
Bila yang kukira hanya seorang gadis biasa, ternyata tidak seperti itu. Ia kerap kali mengkritik kebijakan atau kinerja pejabat melalui tulisan yang dipublikasikan oleh beberapa situs web seperti kabarbenggawi.com atau kompas.com.
Bila mengatakan hal demikian karena terdorong dari apa yang ia lihat pada saat pemuda-pemudi Banggai Laut turun aksi di depan kantor DPRD dan Kantor Bupati Banggai Laut pada Senin, 23 Oktober lalu—sebelum hari Sumpah Pemuda.
Aku hanya mendengar ucapanmu, sambil memikirkan keadaan Banggai Laut. Suatu hari nanti, semoga lahir pemikir-pemikir besar dan daerah ini menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan dunia. Aku juga mulai berpikir bagaimana nanti Banggai Laut menjadi tempat yang berisi wanita sepertimu.
“Kok bengong, sih?” tanyamu memecahkan lamunanku. “Pulang yuk, sudah gelap,” ajakmu sambil menarik tanganku.bTapi untuk kali ini, aku menolak ajakanmu. “Bila.”
Kau menoleh, berkedip beberapa kali, kentara bingung dengan reaksiku. “Iya, kenapa, Gun?”
Aku tersenyum, menatapmu dengan kagum yang bersusun-susun. Angin laut mulai terasa dingin mengenai kulit, cahaya pun perlahan meredup seiring matahari yang tenggelam ke dasar laut. Tapi dari netraku, kau begitu indah dengan cahayamu. Kau bersinar dengan pemikiran abstrakmu, yang kalau keliru aku siap menjadi penegurnya.
Bagaimana bisa Tuhan menciptakan senja di Banggai Laut bersamaan dengan dirimu hari ini? Bukankah sedikit aneh jika kukatakan senja hari ini kalah cantiknya denganmu? Terdengar sedikit puitis dari definisi indah itu sendiri.
“Tidak mau duduk sebentar lagi, Bil?” tawarku penuh harap.
“Boleh,” jawabmu sambil tertawa pelan.
Aku terdiam, berusaha menyusun kata. “Bil, Banggai Laut seperti apa yang sering kau gambarkan di kepalamu?”
“Jawabanku sedikit panjang, Gun,” katamu.
Aku tersenyum. “Aku tidak masalah.”
Kau tersenyum, kemudian melempar pandang ke arah cahaya jingga yang mulai menggelap.
“Banggai Laut yang tidak miskin pengetahuan, Banggai Laut yang ketika diteriaki persoalan kemanusiaan tidak menutup telinga, Banggai Laut yang bangga dengan prestasi anak-anaknya, Banggai Laut yang tidak menindas, Banggai Laut yang bebas berekspresi. Mungkin terdengar mustahil, Gun, tapi dari anak muda sekarang, aku berharap itu.”
Luar biasa. Benar rupanya, aku mungkin jatuh hati kepadamu.
“Banggai Laut pasti bangga dengan perempuan sepertimu, Bil,” ungkapku. Kau malah tertawa, lucu sekali.
“Ayo balik, Gun, sudah malam.”
“Kalau kuajak kau menjadi bagian dari waktuku selain pekerjaan kantor dan mengajar anak-anak desa, kamu mau, Bil?”
“Maksudmu apa, Gun? Aku tidak mengerti,” ungkapmu.
“Jadi kekasihku, Bil. Mau, ya?” ucapku dengan keberanian luar biasa.
Kau terdiam, cukup lama menurutku. Lalu di menit berikutnya kau tersenyum dengan indahnya, mengangguk kecil, lalu berlari pelan meninggalkanku di belakang.
Aku memaknainya dengan ucapan ‘iya’. Bila, ayo bersama membentuk Banggai Laut seperti harapanmu. Kali ini biar aku membersamaimu. (*)
*Topan Samudra Adjahum Sabeha, akrab disapa Opan, lahir dan besar di Banggai Laut. Ketertarikannya pada ilmu agama dipupuk sejak kecil oleh kakeknya.
Penulis menempuh pendidikan di SD Inpres Bobolon, MTs Negeri Banggai, Pondok Pesantren Daarut Dakwah Wal Irsyad Kilongan Permai, dan melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (2019-2023).
Selama kuliah, ia aktif mendalami agama dan filsafat melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya dan Jaringan Aktivis Filsafat Islam. Saat ini, Opan berprofesi sebagai guru, meyakini bahwa dengan mengajar, ia dapat terus menjaga dan berbagi ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang.
Posting Komentar untuk "Cerpen: Belajar, untuk Apa?"