Melihat Pasar Suku Sea-Sea di Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah, Pasar Barter yang Berjalan Tanpa Uang di Tengah Digitalisasi Dunia

BANGGAI BERDIKARI - Sistem barter atau dikenal dengan pertukaran barang tanpa menggunakan uang memiliki sejarah yang sangat panjang. Di pelajaran Ekonomi saat SMA di ajarkan bahwa sistem barter telah ada pada masa 6000 tahun sebelum masehi dan digunakan oleh Bangsa Mesopotamia. Berdasarkan sejarah Bangsa Mesopotamia sekarang ini berada di bagian dari negara Irak dan Suriah. Sistem tersebut akhirnya menyebar ke bangsa-bangsa lain seperti Fenisia hingga akhirnya dikembangkan di kota Babilonia dengan menggunakan barang tertentu sebagai penentu nilai tukar barang.

Di Indonesia sendiri berdasarkan buku karya Tri Worosetyaningsih yang berjudul “Kehidupan Masyarakat pada Masa Pra Aksara, Masa Hindu Buddha, dan Masa Islam” dijelaskan barter adalah sistem perdagangan yang ada pada masa pra aksara atau dimana manusia belum mengenal tulisan. Dalam masa pra aksara dikenal dengan beberapa sistem kehidupan, seperti masa berburu dan mengumpulkan makanan. Di masa ini manusia hidup berpindah-pindah atau dikenal dengan nomaden. Kemudian masa bercocok tanam. Nah di masa ini manusia mulai mengenal sistem barter. Karena manusia mulai hidup menetap, membentuk sebuah komunitas atau kelompok, mulai mengelolah tanah untuk menghasilkan makanan yang dikenal dengan sebutan food producing. 

Dengan kemampuan menghasilkan makanan dan terciptanya kehidupan yang mulai rapi pada masa ini, pada akhirnya memberikan dampak yang sangat luas bagi masyarakat termasuk sistem barter yang dilakukan sebagai usaha memenuhi kebutuhan hidup bagi individu ataupun kelompok. 

Di era sekarang, meskipun uang menjadi alat pembayaran utama, ditambah lagi dengan kompleksitas berbagai sistem bahkan aplikasi pembayaran guna memudahkan transaksi jual beli, tapi sistem barter masih eksis di beberapa daerah di Indonesia, terutama di pedalaman dan pasar tradisional. Contohnya adalah pasar barter di Desa Wulandoni, Lembata, Nusa Tenggara Timur, pasar terapung Lok Baitan di Kalimantan Selatan, pasar Mabunibuni di Fakfak Papua Barat, pasar tradisional Labala dan Warloka di Nusa Tenggara Timur, termasuk pasar Sea-Sea yang lokasinya diantara Desa Lemelu dan Desa Labotan Kandi Kecamatan Bulagi Selatan Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah. 

Menilik dari sejarah sistem barter, pasar Sea-Sea tentunya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Uniknya ditengah gempuran dan eksisnya pasar konvensional, pasar barter ini masih eksis hingga sekarang. Padahal lokasinya terbilang dekat dengan pasar rakyat yang ada di Desa Lumbi-Lumbia. Berjarak kurang lebih sepuluh kilo meter. 
Dari beberapa analisis dan observasi, hemat penulis ada beberapa hal yang membuat pasar Sea-Sea masih bertahan di era yang semakin berkembang dan beroperasi seminggu sekali setiap hari Selasa. Mulai pada jam 06.00 sampai dengan pukul 09.00 Wita. 

1. Keterbatasan Akses
Seperti kita ketahui bahwa lokasi pasar Sea-Sea berada di daerah pegunungan kurang lebih 400 meter di atas permukaan laut. Sulitnya akses terutama jalan yang rusak untuk menuju Desa pesisir menjadikan pasar Sea-Sea dapat menjadi solusi praktis karena tidak memerlukan uang sebagai alat transaksi. 

2. Sistem Gotong Royong (Saling Membantu) 
Sistem barter yang ada di pasar Sea-Sea mencipatakan satu budaya baru yakni saling tolong menolong. Dalam artian bahwa masyarakat saling membantu memenuhi kebutuhan masing-masing dengan pertukaran barang yang mereka miliki. 

3. Keterbatasan Modal
Walaupun sekarang ini di pasar Sea-Sea sudah ada transaksi jual beli secara tunai, namun masyarakat sekitar seperti Alani, Lemelu, Labotan Kandi dan Osan masih tetap menggunakan sistem barter sebagai transaksi jual beli. Mereka berpandangan bahwa barter memungkinkan transaksi tanpa menggunakan uang, sehingga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang tidak memiliki uang tunai atau kesulitan mengakses layanan perbankan.

4. Dapat Meningkatkan Nilai Barang
Barter dapat memberikan nilai lebih pada barang yang ditukar karena melibatkan proses negosiasi dan kesepakatan antara dua belah pihak. Salah satu contoh misalnya teman saya menukar beberapa lembar baju kemeja bekas masih sangat layak dengan beberapa ikat sayur bayam. Total harganya sekitar tiga ratusan ribu, namun yang didapatkan jika di hitung hanya puluhan ribu saja. Begitupun sebaliknya ketika kita menukar barang yang dipesisir dengan hasil kebun (ubi banggai, bete, jalar, jagung,sayur dan lainnya) jika dihitung maka hasil dari kebun tidak sebanding harganya dengan barang ditukar dari pesisir. Namun hal ini bukan penipuan, tapi hasil dari negosiasi dan kesepakatan.

5. Mempertahankan Tradisi dan Budaya
Beberapa daerah di Indonesia termasuk pasar Sea-Sea masih mempertahankan tradisi barter karena dianggap sebagai bagian dari budaya mereka dan cara untuk mempererat hubungan antar masyarakat. Percaya atau tidak dengan latar belakang yang ada, ternyata masyarakat masih percaya bahwa sistem barter pasar Sea-Sea adalah warisan dan peninggalan leluhur yang harus tetap dijaga dan dilestarikan hingga ke anak cucu.

6. Interaksi Sesama Warga
Ini bukanlah interaksi di facebook pro atau media sosial lainnya yang kita kenal di masa sekarang. Hehehehe. Dalam kesempatan saya menyaksikan dan melihat, ternyata pasar barter ini bukan hanya dijadikan tempat jual beli. Akan tetapi sebagai interkasi antar masyarakat. Sudah sejak lama pasar Sea-Sea dijadikan tempat untuk bertukar informasi dari masyarakat pegunungan dan pesisir. Tapi hal ini bukan kategori susupo, apalagi susuki. Bertukar informasi seputaran harga komoditi di pasaran, harga ternak baik sapi ataupun babi dan lainnya. Selain itu ternyata pasar ini menjadi tempat silaturahmi dan bersua bagi sanak saudara yang sudah tinggal menetap di wilayah lain. Keren kan.

Selain pasar Sea-Sea, ternyata ada satu pasar tradisional yang masih menerapkan sistem barter yakni pasar Babono Sasake Desa Seano Kecamatan Buko Selatan. Berdasarkan informasi pasar ini sudah ada sejak lama, namun sempat berhenti operasi. Nanti Pada tahun 2020 dibuka kembali atas inisiatif dari masyarakat.

Tentunya sekarang ini pasar barter Sea-Sea bukan hanya dipandang hanya sebagai alternatif transaksi jual beli antara masyarakat pegunungan-pesisir. Namun lebih dari itu, pasar Sea-Sea adalah warisan yang unik dan memiliki nilai budaya yang sangat kuat. Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat dari masyarakat, komunitas dan Pemerintah Daerah, pasar barter Sea-Sea bisa dilestarikan, bahkan dikembangkan sebagai aset budaya yang sangat bernilai. Apalagi ditunjang dengan sejarah Kabupaten Banggai Kepulauan yang sangat melekat kental dengan Suku Sea-Sea yang mendiami wilayah pegunungan Pulau Peling bagian barat. (*)

*Catatan observasi lapangan dan wawancara informal penulis Nasrullah Nawawi (Nawa) di Pasar Barter Sea-Sea, Bulagi Selatan, Banggai Kepulauan.

Posting Komentar untuk "Melihat Pasar Suku Sea-Sea di Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah, Pasar Barter yang Berjalan Tanpa Uang di Tengah Digitalisasi Dunia"